Rabu, 18 Juni 2014

PHK yang Menyakitkan

Bagaikan ikan yang menemukan air, bagaikan burung yang menemukan sarangnya. Begitulah keadaanku pada saat itu. Perasaan senang campur bahagia dan terkesima. Bagaimana tidak seorang gadis kampung "bau lisung" kata orang Sunda. Gadis kampung yang tidak pernah bermimpi bisa kuliah di Perguruan Tinggi negeri no 2 di Indonesia. Sungguh keberuntungan yang menghanpiriku, tapi aku tidak percaya itu. Beradanya aku disini di kampus ini adalah buah dari perjuangan panjang dan perih.

****
Seperti biasa aku menjalankan aktivtas seperti biasa. Kuliah dan berbaur layaknya mahasiswa lain, karena pada saat itu adalah proses diamana aku mengenal siapa aku? aku menjalaninya dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan pada saat itu. Tidak pernah sedikitpun hari-hariku terlewatkan begitu saja tanpa membuat moment yang berarti. Tidak peduli apakah dalam keadaan sedih atau khawatir karena persedian uang sudah menipis. Maklum pada saat itu dana beasiswa Bidikmisi masih belum cair. sedangkan aku harus mempersiapkan untuk keperluan Masa Perkenalan Mahasiswa Baru (MPKMB). Pemasukanku hanya satu-satunya yaitu kiriman dari ibu dan ayah.

Hati ini terasa berat ketika mulut ini akan mengucapkan "Ibu uang ceuceu sudah menipis". Tapi mau bagaimana lagi, aku masih terlalu baru untuk bisa berjualan seperti yang aku lakukan semasa SMA. Aku juga belum berani untuk meminjam walaupun pada teman kamar. Sedangkan kehidupan harus tetap berjalan, maka dengan perasaan iba aku pun menelpon ibu. Mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan saatitu dan menjelaskannya. Seperti biasa ibu hanya menjawab "Tidak apa-apa sayang, yang penting putri ibu tidak kelapan di kampung orang, Jangan pernah menahan diri selama masih bisa berusaha dan diusahakan".

Begitulah ibu selalu mengutamakan kepentingan ananknya, padahal aku juga tahu keadaan di rumah lebih buruk daripada yang aku rasakan di Asrama. Dengan mudahnya aku menelpon ibu dan bilang "Ibu uang ceuceu sudah menipis". Tapi apakah aku tahu uang itu berasal dari mana? tentu aku tahu mungkin saja uang itu gaji ayah atau simpenan ibu atau bahkan dapat ngutang dari tetangga. Aku atahu itu karena aku telah hidup bersama mereka lebih dari 17 tahun. Aku merasakan hiruk pikuk keluarga kami, bagaimana sulitnya perekonomian keluarga kami dan bagaiman perjuangan keluarga kami. Tapi jauh dari lubuk hatiku aku bersyukur atasnya, karena walaupun keluarga kami penuh dengan kekurangan tapi aku tidak pernah kekurangan kasih sayang dari keluarga terutama ibu dan ayah.

****
Satu semester telah berlalu, terlalu singkat memang tapi tidak bagiku. Satu semester itu panjang bahkan lebih panjang dari kereta api. Aku melewati satu semester di IPB tidak dengan mudah tapi menuh cucuran keringat dan air mata kesedihan. Dimana disaat krisisnya ekonomi keluarga aku ahrus masuk rumah sakit karena sakit demam berdarah (DBD) dan harus di rawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Jika tidak dilandasi dengan iman, uang dari mana aku untuk biaya rumah sakit yang amat mahal bagiku yang terbisa dengan kekurangan. Tapi sekali lagi Allah Maha Kuasa dan Kuasanya untuk orang-oarang yang yang sabar dan yakin akannya. Alhamdulillah sampai aku sembuh semuanya berjalan dengan lancar. Banyak pihak yang turut membantu aku dalam proses pengobatan. Bantuan materi, semangat dan kasih sayang. Aku yang terkesan baru tapi tidak bagi mereka yang merasa familiar denganku.

Bukan hidup namanya jika tanpa adanya ujian. Ujian adalah suatu bukti kecintaan Allah padaku dan dengan adanya masalah ini aku belajar untuk menjadi pribadiyang kuat dan dewasa. Pada saat itu aku diahadapkan pada kondisi harus kehilangan benda yang menjadi penting buatku. Dialah dompetku yang berisi semua identitas dan fasilitas lainnya. Namun mudah saja, letakkan duniamu pada tanganmu jangan pada hatimu. Aku berusaha merelakannya dan hanya berdoa pada Allah jika masih milikku maka akan kembali lagi padaku. Begitulah perjalanan tidak ada yang mulus dan lurus, pasti ada hambatan walaupun hanya kerikil kecil dan pasti ada belokan walau hanya sedikit dan pasti ada tanjakan dan turunan yang menyeimbagkan kita dalam melaluinya.

****
 Libur semester adalah waktu yang paling dinanti-nantikan karena itulah waktu yang panjang untuk dihabiskan bersama keluarga. Itulah yang menjadi alsanku memutuskan untuk pulang. Dengan penuh rasa suka cita aku pulang. Sesampai di rumah seperti keluarga lainnya aku menikmati liburanku. Namun yang menjadi pertanyaan adalah ayah. Selama aku liburan ayah tetap berada di rumah, padahal aku sudah terbisa dengan ayah tidak ada di rumah. Karena ayah selalu kerja di luar kota atau luar kecamatan yang mengharuskan ayah pulang dua minggu sekali atau bahkan satu bulan sekali. Pemandangan ini sungguh tidak seperti biasanya. 

Dengan penuh rasa penasaran di hatiku, aku menghampiri ibu dan dan menanyakan kebenaran terkait ayah. Namun jawabab ibu sangat menusuk hatiku seaakan tak ada lagi yang tersisa. Sakit dan sakit setelah mendengar dan mengetahuinya. Lagi lagi aku dibohongi ibu, lagi lagi rasa bersalalah ini muncul karena ketidakberdayaanku. Ibu menjelasakan bahwa ayah telah dipecat (PHK) aatau diberhentikan kerja semenjak aku berangkat ke IPB. Sedangkan uang yang ibu kirim ke aku selama ini adalah uang simpanan ibu sejak lama dan sisanya dapat meminjam dari tetangga atau saudara tapi ada juga dari hasil ayah mengumpulkan telur semut selama berhari-hari. Yah pada saat itu ayah mengerjakan apa saja yang bisa ayah kerjakan.

Ayah adalah seorang yang kuat dengan ketrebatasannya ayah tidak mau anak-naknya mengetahui apa yang beliau rasakan. Ayah tidak seperti oarang lain dengan sejuta keahlian, ayah penuh ketrbatsan maka dari itu tidak bayak pekerjaan yang dpat ayah lakukan. Sehingga ketika kehilangan pekerjaan pokoknya ayah hanya bisa mengerjakan yang dapat ayah kerjakan. Sungguh tidak berperasaan yang telah memberhentikan ayah kerja, tiada lain adalah saudara sendiri. Mengapa pada saat anaknya baru masuk kuliah ayah diberhentikan, padahal pada saat itu tengah dibutuhkan biaya yang cukup besar. Bertanya pada siapa? ini semua sudah keputusan sang Pengatur. Aku hanya bisa berserah dan bertawakal pada-Nya. 

Aku menanyakan juga pada ibu tidak memberitahuku bahwa ayah telah berhenti kerja ketika aku merengek meminta uang. Mengapa ibu hanya mengatakan ayah bekerja ketika aku menanyakan "Bu apakah ayah masih kerja?" ibu menjabanya "iya ayah kerja sayang". Air mata sedih, kecewa dan rasa bersalah menyatu tak dapat kupishkan apalagi dibedakan. Aku tidak athu harus seperti apa dan bagaiman menerima ini semua. Melihat ayah yang sakit dan tanpa semangat dada ini semakin sesak. Bagaimana mungkin ayah tidak sakit, siapa yang tidak sakit hati dan terpukul. Disaat anaknya membutuhkan biaya yang sangat besar ayah harus diberhentikan kerja dengan alsan yang tidak jelas. Jika aku berada diposisi ayah jelas aku kan mersakan yang sama. Namun sekali lagi ayah tidak pernah menunjukan itu semua dihadapan anak-anaknya. Ayah hanya berkata "ayah tidak apa-apa, ayah baik-baik saja pekerjaan bukannya hanya disitu dan rezeki buka dia yang mengatur, kita masih memiliki Allah untuk meminta, ceu yang sabar ya". Begitulah jawaban beliau ketika aku menyakan"apakah ayah baik-baik saja?".

Tangis haru yang berasal dari keluarga harmonis ini kiat terdengar dan semakin menjdi pilu. Namun ini semua bukanlah pertanda tidak tegarnya kami tapi ini adalah bukti cinta kami satu sama lain. Ibu ayah dan aku terbawa dan terhanyut pada suasana haru. Terlepas dari suasana haru kami sudah siap pada kondisi semula dimana kekuatan sudah kami persiapkan untuk menghadapi hari baru. Ayah yang mulai terlihat sehat setelah kami banyak berdiskusi dan saling menguatkan satu sama lain. Terlihat semangat ayah terpancar dan siap melakukan apapun itu asalkan halal untuk menfkahi anak dan istri tercinta. 

Itulah ayahku, walaupun penuh dnegan kekurangan, keterbatasan tapi ayah tidah pernah mengurangi kasih sayangnya pada anak-anak dan isterinya. Ayah juga tidak pernah pantang menyerah dalam berusaha dan berikhtiar walau nyawa taruhannya. Asalkan anak san isterinya dapat hisup layak dan bahagia. Itulah ayah pahlawanku dan akan tetap menjadi laki-laki no satu dihatiku dan hidupku sampai saat ini. Hingga samapai pada saatnya nanti ayah menyerahkan aku pada sang pangeran dunia akhiratku..

****
Sungguh luar biasa hidup ini jika menjadi orang-orang pilihan Allah SWT untuk mendapat ujian-Nya. Mungkin diPHKnya ayah adalah ujian terberat dan sangat terpukul tapi dibalik itu semua Allah menyelipkan kebahagiaan pada keluagra kami. Ya itulah rasa syukur, dengan bersyukur kamu selalu merasakan kebahagiaan dalam getirnya kehidupan. Aku menikmatinya dan mensyukurinya disetiap hembusan nafsku. terima kasi ya Rabbku, hanya dengan Engkau aku beriman dan memohon pertolongan. Semoga keluarga kami senantiasa ada salam lindungan-Mu ya Rabb. Hidup bahagia di dunia dan akhirat dan hanya mengharap Ridho-Mu.. Aamiiiin :)

Tepat tengah malam di kamar kecilku, 18 Juni 2014_TSA_




SMPku Harapanku

-SMPku Harapanku-

Waktu itu aku tingkat akhir di sekolah dasar.. Sudah mulai berpikir akan melanjutkan sekolah kemana? Madrasah Tsanawiyah ataukah SMP...

Akan tetapi keputusan ibu berbeda dari harapanku.. ibu tidak memberikan pilihan keduanya.. tapi dengan mantap ibu mengatakan. "ceu masuk pesantren aja ya, insya Allah nanti ibu antarkan besok ke Pondok Pesantren Darul-Huda".. mendengar pernyataan ibu, kaget tentu kecewa juga iya.. karena sikap penurut yang telah melekat aku hanya menjawab.. "iya bu, insya Allah kan ceuceu juga sudah pernah MI disitu".. aku tidak tahu apa yang aku putusan benar atau tidak yang jelas aku tidak mau membantah ibu toh aku juga sudah dekat dengan lingkungan tersebut mudah-mudahan tidak ada masalah.. padahal belum pernah terbayang kehidupan di pondok itu seperti apa? diusia aku yang belum genap 12 tahun aku mencoba menapaki kehidupan pondok pesantren..
-------
satu bulan telah berlalu.. mudah saja ternyata menjalani hidup di pondok, tidak seseram yang aku bayangkan sebelumnya.. Disini aku belajar bagaimana berbagi, menghargai dan mengasihi sesama santri.. berinteraksi dan menghormati yang menjadi guru..

Mungkin terkesan biasa saja, tapi tidak untukku.. semuanya berubah. jika di rumah tidur sendiri, makan sudah tersedia dan bersikap manja pada ibu dan ayah.. namun setelah masuk pondok aku harus rela berbagi tempat tidur, berbaur dengan karakter tidur masing-masing santri. ketika mau makan kami harus mempersiapkannya bersama, dengan menu seadanya ikan asin sambel tomat dan rebus daun singkong, terasa nikmat karena kami menikmatinya bersama-sama..
----------
Sungguh banyak sekali pengaman dan pelajaran yang aku dapatkan di pondok ini.. aku tidak tahu akan seperti apa jika aku menolak perintah ibu.. mungkin aku akan tetep menjadi anak yang manja..
--------
Malam itu seperti biasa, saatnya belajar membaca Al-qur'an.. dengan penuh semangat aku menghadap sang guru. jujur mungkin sebelumnya ketik kelas 5 SD aku sudah hatam Qur'an tapi apakah sudah betul cara membacanya? maklum hanya belajar dengan nenek dan kakek (Alm) tercinta. 

Ketika berhadapan dengan guru, jantung ini berdetak tak seperti biasanya, padahal aku sudah satu bulan disini.. apa yang membuat aku seperti ini.. pada saat itu aku belum belajar dan belum latihan dengan santri lain karena sesuatu hal.. ketakutan dan grogi yang timbul membuatku semakin gugup untuk memulai membaca Al-qur'an..

"neng, silahkan dimuali ngajinya" guruku ustadzah Uun (Alm) mempersilahkan aku untuk mengaji.. "iya umi" jawabku singkat..
----------
Aku mengaji hampir menghabiskan waktu 30 menit untuk satu ayat saja.. betapa aku ingin menagis rasanya, dimana biasanya setelah ulangan ketiga kali aku sudah bisa lanjut ke ayat berikutnya.. tapi yang terjadi saat itu tidak demikian..
Alhasil umi berkata "aduh gimana atuh neng, udah belajar lagi ya, malam ini dicukupkan dulu" 
aku menjawab dengan menundukan muka "iya umi insya Allah"

betapa malu dan menyesalnya aku pada saat itu.. betapa belajar dan latihan itu sangat penting dan betapa perlu perjuangan untuk dapat melantunkan ayat Allah dengan baik.

*******
pagi yang cerah masih bisa ku nikmati.. terlihat lantai yang sedikit kotor aku mencoba meyapunya.. ketika itu aku tengah fokus dengan belajar melafalkan huruf2 hijaiyah dengan baik.. tiba-tiba Teh Enis (putri guruku) membuatku kaget dengan dengan suaranya..

"neng tikaaaaaa" teriaknya sambil menghampiriku..
"astagfirullah teteh kaget ih".. jawabku berhenti menyapu..
"kenapa? ada apa? heboh sekali" sambung aku. dengan cepat dia menjelaskan maksudnya menghampiri aku..
"jadi gini neng, jadi besok aku uda mulai daftar ke MTs.. doain ya semoga keterima" 
aku terdiam "ih kok diem aja sih, kamu jadinya daftar kemana? SMP kan? masa juara kelas ga ngelanjut sih?" ujarnya sambil becanda.. Aku memegang tangannya dan berkata. "bersyukurlah teteh sudah bisa daftar ke sekolah yang teteh inginkan, aku bukan tidak menginginkannya tapi.." Aku tidak melanjutkan pembicaraanku..
"tapi kenapa neng?" tanya dia penasaran.
-----------
Mungkin bagi sebagian atau banyak orang memilih sekolah dimanapun seperti apapun sangatlah mudah.Bahkan walaupun mereka tidak ingin orang tua sudah memilihkan sekolah terbaik untuk anak-anaknya.. Akan tetapi keadaan yang aku alami adalah ketika anak-anak lain bergembira sudah daftar di sekolah yang mereka inginkan dan mendapat dukungan penuh dari orang tua.. pada saat itu aku masih harus berjuang meminta izin kepada ayah dan ibu agar dapat melanjutkan sekolah... disinilah letak perbedaan itu.. ketika yang menjadi impian dan harapan harus diperjuangkan atau hilang ditelan keadaan.. maka disinilah perlunya kita bersyukur dan berhenti mengeluh.. karena boleh jadi yang tidak kita harapkan adalah impian terbesar untuk mereka-mereka seperti ku..
--------
Ayah yang tamatan SD berprofesi sebagai buruh tani. Ibu yang tamatan SD sebagai ibu rumah tangga.. cukup untuk dikatakan bahwa keluarga kami jauh dari kecukupan ekonomi.. itulah yang membuat ayah melarang aku untuk melanjutkan sekolah..

"Jika SD saja yang SPP Rp 5000 per bulan sudah terasa berat apalagi SMP ceu, belum ongkos per harinya" begitu kata ayah ketika aku mengutarakan keinginanku untuk bersekolah.. ayah bersikeras dan tetap tidak mengijinkan aku dengan berbagai alasan.. "ayah takut nanti malah berhenti ditengah jalan ceu, mendingan tidak usah sama sekali" tambahnya tegas..
saat itu aku hanya bisa tertunduk dan menitikkan air mata..
----------
hidup adalah perjuangan dan harus diperjuangkan.. dengan tekad dan penuh keyakinan aku terus berusaha membujuk ayah. walaupun aku tahu sifat keras ayah tidak mudah untuk diluluhkan.. keyakinan dan kerja keras itulah yang membuatku masih bertahan dengan keputusanku untuk melanjutkan sekolah.. karena aku yakin di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah telah berkehendak.. "imposible is nothing"
---------
apakah ayah memberikan izin?
Bersambung

lanjutan... ^SMPku Harapanku^
---------
"Ya Allah, berikanlah hamba kesempatan untuk dapat menuntut ilmu-Mu.. saya berkeinginan untuk dapat melanjutkan sekolah ke tingkat SMP.. tapi ayah tidak mengizinkannya ya Rabb.. Bukakanlah hati ayah, berilah keyakinan padanya bahwa setiap makhluk yang hidup sudah dijanjikan rezekinya sama Allah.. terlebih jika dalam kondisi tengah menuntut ilmu.. hamba mohon ya Rabb izinkan hamba mengejar mimpi itu hanya karena mengharap Ridho-Mu.. istajibu dua ana ya Rabb".. aamiiiin

seperti itulah potongan doa aku ketika selesai shalat maghrib.. Tidak menunggu lama, aku langsung bergegas dengan penuh keyakinan dan keberanian.. bermaksud untuk mendatangi ayah...
------
di ruang tamu terlihat ayah sedang menikmati kopinya masih lengkap dengan baju koko, sarung dan kopeahnya..

"ayah, ibu mana? tanyaku sambil meletakan piring yang berisi singkong rebus. kemudian duduk di samping ayah..
ayah meyeruput kopinya dan menjawab "ibu masih di kamar lagi ngaji" "kok ceuceu ga ngaji?" sambung ayah..
aku terdiam dan tidak menjawab.. aku malah mengalihkan pembicaraan..
---------
"ayah, ayah masih belum mengizinkan ceuceu buat sekolah ke SMP ya??" kataku sambil memegang tangan ayah dan menatapnya penuh harap..
ayah cuma menjawab.. "heemmm" terus menikmati kopi dan singkong rebusnya..

aku tidak cukup sampai disitu aku kembali meyakinkan ayah.. "ayah ayolah.. ada beasiswa kok.. ceuceu janji akan berprestasi di sekolah jadi beasiswanya banyak ayah. yah boleh ya ayah pleasee!!" aku terus memohon dan memohon.. sampai akhirnya ayah bilang 

"ya Allah ceu, maafin ayah ya, ayah benar-benar terlalu mengkhawatirkan masalah biaya, ayah tidak peka kalau anak yah begitu sungguh-sungguh ingin sekolah.. iya sayang boleh ayah izinkan ceuceu buat sekolah di SMP 1.. insya Allah ayah akan lebih semangat mencari rezeki untuk kita semua" ayah langsung memeluk aku dan aku menitikan air mata karena terharu dan bersyukur..

Alhamdulillah izin dan restu orang tua sudah ditangan.. saatnya melanjutkan perjuangan berikutnya.

Disini Allah menunjukan kekuasaan dan kasih sayangnya bahwa siapa yang bersungguh-sungguh maka ia dapat "Man jadda wa jada"
----------
perjuangan selanjutnya adalah bagaimana caranya daftar ke SMP yang selama ini aku harapkan..

Sekolah dasarku tidak seperti sekolah dasar pada umumnya.. dimana seluruh siswa yang akan mendaftar ke Sekolah Menengah Pertama pasti dikolektif dan sudah didaftarkan oleh pihak sekolah.. berbeda dengan sekolahku yang dimana siswa harus daftar secara pribadi ke pihak sekolah yang dituju..
-----
Ayah dan ibu dengan latar belakang pendidikan tamatan SD tidak mengerti bagaimana caranya mendaftar ke sekolah menengah pertama.

akhirnya aku pergi ke pondok dan menanyakan kepada teteh santri yang kebetulan siswa kelas 9 SMP yang sama dengan sekolah yang aku tuju.. dari beliaulah aku mengetahui bagaimana pendaftaran dan persyaratan apa saja yang perlu aku persiapkan...

maka bersyukurlah ketika ada diantara kita yang segala sesuatunya sudah dipersiapkan orang tua guru atau saudara..
hargailah setiap apapun itu yang kamu miliki maka rasa syukur itu akan mendatangkan kebahagian..
---------
Dengan penuh semangat aku melakukannya seorang diri, kesana kemari, melengkapi ini dan itu aku lakukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan...

seperti itulah semangatku mengejar mimpi.. karena bagiku mimpi itu bukan hanya sekedar angan-angan.. butuh perjuangan untuk dapat meraihnya..
----------
Alhamdulillah dengan izin-NYA aku bisa bersekolah di SMP yang aku harapkan.. Dengan mendapat beasiswa operasional siswa (BOS) dan beasiswa siswa berprestasi.. sehingga selama sekolah 3 tahun aku hanya membeli baju seragam dan perlengkapan sekolah lainnya diawal saja.. selanjutnya biaya buku dll berasal dari beasiswa.. sekali lagi "Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahman)..
--------
Begitulah aku terus memaknai hidup dengan senantiasa bersyukur kepada-NYA.. karena hidup yang bahagia adalah hidup dengan penuh rasa syukur..
--------
Mungkin beasiswa adalah penunjang.. bagaimana dengan kebutuhan harian yang selama ini ayah khawatirkan..

Aku sudah mengatasinya dengan cara bawa bekal dari rumah dan membawa makanan ringan yang siap aku jual ke teman-teman..
aku tidak pernah merasa malu karena yang aku lakukan adalah halal dan tidak merugikan orang lain. dan alhamdulillah hasilnya bisa untuk ongkos angkot..
mengapa demikian karena tidak setiap hari ibu memberi aku uang saku sedangkan aku pergi ke sekolah setiap hari..

Maknailah dan hargailah setiap apa yang kita miliki. sesungguhnya nikmat Allah SWT itu dekat..
---------
Masa-masa SMP bagi sebagian orang adalah masa yang paling menyenangkan begitupun bagiku..
--------
lalu seperti apa masa-masa SMP ku lalui?

Bersambung..



“Bidikmisi mengantarkan saya pada sebuah impian”



“Bidikmisi mengantarkan saya pada sebuah impian”

Subhanallah maha suci Allah, siapa yang bersungguh-sunguh maka dialah yang berhasil, sepenggal kalimat yang membuat saya semangat menjalani hari-hari saya. Terlahir dari keluarga sederhana bahkan mungkin bisa dikatakan lebih dari sederhana. Kenapa? Karena untuk makan saja butuh perjuangan. Hal itu tidak menjadi hambatan bagi saya untuk bermimpi dan berusaha menggapai mimpi itu. Ketika itu saya masih duduk di kelas XII IPA 1 SMAN 1 Malingping, Lebak-Banten, tengah mempersiapkan Ujian Nasional (UN). Dengan penuh semangat saya sangat giat belajar agar dapat lulus dengan hasil yang memuaskan. Karena saya hanya anak buruh tani, jadi sekolah saya harus luar biasa agar tidak menjadi yang biasa-biasa saja. 

Saya sangat menyayangi keluarga saya terutama ibu dan ayah saya, beliau adalah semangat saya, jiwa saya dan segalanya untuk saya. Ingin sekali menjadi anak kebanggan bagi beliau, saya selalu melakukan yang terbaik yang menurut beliau baik. Akan tetapi untuk satu hal ini saya menentang beliau, saya bersikukuh untuk tetap melanjutkan kuliah. Sedangkan ayah melarang karena alasan yang logis yaitu tidak memiliki biaya untuk kuliah saya. Pada saat itu saya dihadapkan pada keadaan yang membuat hati ini tersayat sakit, apakah menuruti perintah orang tua ataukah melanjutkan kuliah untuk menggapai mimpi yang sangat saya harapkan.

Dua hari telah berlalu, tetapi saya masih belum bisa memutuskan, mulut ini tidak sanggup untuk mengatakan “tidak” pada ayah, akan tetapi hati ini sakit melihat kondisi keluaarga yang sangat kekurangan. Akhirnya saya memutuskan untuk konsultasi kepada guru BP yang telah menjadi kepala sekolah. Kepada beliaulah saya menceritakan permasalahan saya. Dengan tegas beliau menjawab “ bagus tika, kamu ada keinginan untuk melanjutkan kuliah, karena hanya dengan pendidikanlah kamu dapat mengangkat harkat dan derajat orang tua kamu menjadi lebih baik, bapak sangat mendukung. Untuk urusan biaya, kamu jangan khawatir karena mulai dari tahun 2010 ada beasiswa BIDIK MISI. Beasiswa ini diperuntukan untuk mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi tetapi memiliki prestasi dibidang akademik. Kamu bisa daftar beasiswa ini dan kalau boleh bapak sarankan kamu masuk perguruan tinggi Institut Pertania Bogor (IPB) karena termasuk PTN yang mendapatkan kuota penerima beasiswa BIDIK MISI terbanyak. Beasiswa ini sangat membantu karena selain mendapatkan biaya pendidikan juga mendapatkan biaya hidup per bulan. Silahkan kamu fotocopy berkas ini untuk bekal kamu daftar”. Memberikan berkas kepada saya.

Hasil konsultasi saya dengan kepala sekolah yaitu dengan adanya keputusan untuk melanjutkan kuliah ke IPB dengan prodi Proteksi Tanaman fakultas Pertanian. Saya masih belum percaya dengan keputusan ini, tapi jujur saya merasa tenang dan berterima kasih sekali kepada kepala sekolah yang sudah saya anggap ayah sendiri, karena beliau selain guru BP juga sebagai Pembina kelompok ilmiah remaja (KIR) salah satu ekstrakulikuler yang saya ikuti di SMA. Dengan penuh kecerian dan rasa bahagia saya menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada kedua orang tua saya. Respon ayah dan ibu sangat baik, karena saya menjelaskan dan memaparkan satu per satu mengenai beasiswa BIDIK MISI. Baik yang akan saya terima dan apa yang harus saya berikan. Alhamdulillah restu dan ridho dari orag tua sudah ditangan, saya sangat bersyukur atas jalan terbaik yang telah Allah berikan. Dulu saya tidak pernah bermimpi untuk biasa kuliah di PTN terbaik, tetapi dengan tekad dan niat yang sungguh-sungguh mimpi itu mulai memampakan celahnya.

Perasaan yakin itu selalu mengiringi langkah saya ketika pendaftaran mahasiswa baru sekaligus pendaftaran beasiswa bidik misi. Tidak ada harapan lain dihati saya kecuali perasaan yakin bahwa saya pasti keterima di IPB dan mendapatkan beasiswa. Selama satu bulan saya mempersiapkan semuanya, mulai dari persyaratan hingga mental dan ilmu sebagai bekal nanti jika saya keterima menjadi mahasiswa IPB. Semua itu saya lakukan dengan penuh keikhlasan karena Allah untuk keluarga tercinta. Hanya itulah yang membuat saya tetap semangat walaupun hujatan dan cemooh orang lain silih berganti menghampiri saya. Jika saya sudah niat maka tidak akan ada hambatan yang akan saya biarkan menggagalkan niat saya itu, saya akan berusaha agar niat saya itu membuahkan hasil.

Saat yang sangat memacu adrenalin saya yaitu ketika pengumuman penerimaan mahasiswa baru IPB diumumkan. Saat itu saya dengan penuh keyakinan membuka website dan nama saya tercantum, tanda bahwa saya diterima sebagai mahasiswa IPB. Dengan penuh rasa syukur saya berterima kasih kepada Allah atas keputusan terbaik dari-NYA, saat itu juga saya langsung memeluk ibu dan ayah saya sebagai ungkapan rasa bahagia atas nikmat Allah. Tapi, tidak berhenti sampai disini, ayah harus kembali memutar otaknya untuk memikirkan dari mana mendapatkan uang untuk pergi ke Bogor dalam rangka registrasi mahasiswa baru. Singkat cerita, akhirnya aya tidak ada keputusan lain, menjual harta kami satu-satunya yang telah dipelihara bertahun-tahun adalah satu-satunya solusi agar saya dapat mengikuti registrasi, yaitu seekor kerbau. Sebenarnya saya tidak tega, tapi demi mimpi anaknya ayah rela mengorbankan harta satu-satunya. Hasil jual kerbau itu cukup untuk aku pergi ke Bogor registrasi selama dua tahap.

Sungguh Allah maha adil, Allah mengganti seekor kerbau ayah dengan kabar gembira dari IPB bahwa saya diterima sebagai mahasiswa yang mendapatkan beasiswa bidik misi. Sungguh perasaan yang sangat luar biasa, saya bersyukur atas nikmat ini. Subhanallah satu persatu mimpi itu menjadi nyata. Lulus ujian, diterima di IPB dengan prodi pilihan pertama dan mendapatkan beasiswa bidik misi. Setelah melalui berbagai rintangan dan hambatan saya pun dapat melewatinya dengan hasil yang indah. Semua ini tidak lepas dari kekuasaan Allah, doa ibu dan ayah serta dukungan dari semua orang yang menyayangi saya. Saya berterima kasih sekali kepada pihak DIKTI dan IPB atas kesempatan yang telah diberikan, insya allah akan saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan penuh harapan saatnya mengukir prestasi bersama bidikmisi. Mungkin jika tidak ada beasiswa bidik misi, saya tidak akan merasakan indahnya persahabatan di IPB, suasana kampus yang ramah dan pengalaman yang luar biasa. Dengan adanya beasiswa bidik misi ini membantu anak-anak Indonesia terutama yang kurang mampu secara ekonomi tetapi berprestasi dibidang akademik. 

Semua orang berhak atas pendidikan, walaupun tidak hanya pendidikan formal. Tetapi untuk menciptakan generasi yang berpendidikan sarana itu penting. Saya sangat besyukur dan bangga menjadi mahasiswa IPB. Walaupun ayah saya hanya lulusan SD tapi anaknya jangan seperti ayah, saya harus memutuskan tali kemiskinan di dalam keluarga saya. Walaupun ayah saya hanya seorang buruh tani yang penghasilannya hanya cukup untuk makan, apa salahnya jika anaknya menjadi orang sukses, menjadi intelektual yang berhasil. Itu semua tidak mustahil, dengan niat dan tekad disertai doa dan usaha yang kontinyu pasti bisa dan impian itu akan terwujud atas ridho Allah.

Inilah jalan yang diberikan Allah, jangan pernah katakana tidak bisa karena potensi itu ada. Saya selalu yakin bahwa jika kita ada kemauan maka yakinlah pasti bisa. Saya harus menjadi manusia yang berguna untuk keluarga dan sesama, karena hidup ini akan jauh lebih indah dengan berbagi. Beasiswa bidik misi ini sangat bagus karena tidak hanya ditinjau dari segi ekonomi tetapi prestasi yaitu dengan syarat IPK (indeks prestasi komulatif) harus di atas 2,50. Itu merupakan acuan untuk saya bahwa kita hidup jangan hanya ingin diberi tapi berikanlah yang terbaik yang mampu kita lakukan. 

Kisah inspiratif ini mungkin jauh dari kesempurnaan, karena bukan sempurna yang saya cari, tapi saya harap cerita ini bisa menjadi sarana untuk berbagi. Selalu berfikir positif kepada Allah berdoa dengan penuh keyakinan dan berusaha semaksimal mungkin. Semua orang pasti memiliki mimpi, raihlah gapai dengan tangga prestasi. Terus berusaha yakinlah bahwa kaki kita tidak akan berhenti sebelum menginjak surga-NYA. Jika kita hanya mengharap ridho Allah maka tidak aka nada rasa memiliki yang berlebihan, seperti beasiswa ini, jangan merasa memiliki tapi berusahalah untuk memaknai. Saya selalu menerapkan “man jadda wa jada dan kun fayakun”. Semua kembali lagi pada Allah.

Bogor, 21 September 2012 




Surat Kecil Untuk Rektor



Surat Kecil Untuk Rektor
                                                               
                                                                                            05 Oktober 2013
Assalamu’alaikum wr.wb
          Saya merasakan keindahan dan pandangan yang sejuk ketika melintasi jembatan Danau LSI. Air danau dengan warna hijaunya yang khas menandakan betapa banyaknya ganggang didalam sana. Saya juga terkadang terkesima dengan pemandangan pohon-pohon rindang dan hijau yang turut mempercantik serta menambah kesan indahnya Danau LSI. Itulah yang saya rasakan ketika bertemu dengan danau LSI. Tentunya bukan hanya saya yang menikmati keindahan ciptaan ALLAH ini, masih banyak teman-teman yang lain yang mungkin berpikiran sama dengan saya. Akan tetapi adakah yang peduli? Begitu banyak biodiversitas yang belum tereksplor manfaatnya itulah yang membuat saya tertarik dengan Danau LSI..
          Betapa indah dan bernilainya Danau LSI kalau yang dapat menikmati bukan hanya saya,  akan tetapi seluruh civitas akademika IPB bahkan mungkin warga dapat menikmati salah satu kekayaan IPB ini. Terlintas dibenak saya untuk memmbuat Danau LSI tidak hanya sebagai danau yang apabila orang melihatnya merasakan keindahan. Akan tetapi saya berkeinginan untuk mengeksplor nilai ekonomi yang terpendam dari sebuah danau cantik dan menjadi lebih bermanfaat.
          Saya memiliki ide yang mungkin terkesan tidak masuk akal tapi mungkin dapat direalisasikan. Alangkah bernilainya danau LSI, jika dapat dijadikan transportasi air dengan menggunakan perahu bagi civitas akademika yang akan pergi dari LSI ke Rektorat. Dipingir danau terdapat pohon-pohon yang rindang betapa mempesonanya jika dibuat lebih menawan dengan menjadikannya tempat mencari inspirasi, misalnya dibuat taman, disediakan tempat duduk yang nyaman dan tertata. Juga bisa sebagai wahana untuk sekedar menyalurkan hobi memancing. Suasana nyaman, pemandangan indah dan inspirasi yang mengalir tentunya merupakan sebuah penawaran yang mengagumkan . Hanya ini aspirasi dari saya semoga dapat menyentuh dan membuka mata dan hati bapak untuk segera merealisasikannya.Terima kasih...

Salam dari anakmu...