Senin, 15 September 2014

Dermaga Biru di Senjaku (Cerpenku Fiktif)




Dermaga Biru di Senjaku
Namaku Zahra Syifa Maulidina, aku sedang disibukan dengan studiku di salah satu universitas di Indonesia. Dan sekarang aku sedang menikmati masa liburanku yang cukup singkat ini, namun walau begitu aku tetap bersyukur. Aku biasa dipanggil Zaza atau Zahra, hanya Adit yang memberikan panggilan beda padaku, “Ra” biasa dia memanggilku.
***
Sore yang indah senantiasa kunanti, entah apa yang ku tunggu hanya saja aku selalu terkagum-kagum akan eloknya jingga yang dipersembahkan sang senja. Aku suka suasana senja, begitu sejuk dan menenangkan, terlebih jika hembusan angin yang lembut turut memanjakanku. Heemm sungguh nikmat Tuhan yang sangat aku syukuri.
****
Aku yang sedang asyik duduk di teras belakang rumah sambil menikmati suasana senja, sontak terkagetkan oleh nada handphone yang terletak tepat di sampingku. Nada yang singkat namun mampu membuatku kaget. Oh ternyata ada sms, tanpa berpikir panjang aku pun langsung meraih Hpku dan membuka pesan tersebut. Deg.. jantung ini seakan berhenti berdetak, namun sesaat kemudian dilanjutkan dengan detak jantung yang lebih kencang, perasaanku mulai tak karuan. Tangan menjadi dingin dan mataku yang sipit berubah menjadi belo karena terpaksa melotot menatap isi pesan itu.

 “Benarkah, diakah?” gumam ku seraya menggerak-gerakan HP yang sedang ku genggam dengan erat. Entah apa yang membuat ku kaget melihat pesan singkat tersebut. Padahal isi dari pesan tersebut biasa saja. “Assalamualaikum, hay Ra kamu apa kabar?” kalimat itulah yang aku baca, tidak ada yang aneh apalagi membuat kaget. Iya memang biasa tapi siapakah yang mengirim SMS itu sampai mampu mengagetkan ku? Ternyata SMS itu dari Radit Pradana Ramadhan, “Adit” biasa ku panggil dia. Dia adalah sahabat terbaik aku. Dia yang paling mengerti akan aku dan sangat mengerti segalanya yang ada pada diriku. Bagaikan satu kesatuan yang berpadu dengan indah, tak ingin terpisahkan apapun yang menjadi penghalang, begitulah kisah persahabatan kami. Entah apa yang membuatnya pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Begitu juga dengan perpisahan yang biasa orang-orang lakukan pada umumnya ketika hendak berpisah. Namun hal itu tidak aku dapatkan ketika Adit hendak pergi meninggalkanku. 

Tepatnya lima tahun yang lalu dia menghilang dari kehidupanku. Tanpa kabar atau apapun yang membuatku lega ketika aku menerimanya. Selama lima tahun aku menjalani hari-hariku tanpanya, walau begitu aku selalu berharap suatu saat nanti dia akan menghubungiku. Maka tak heran selama lima tahun aku tidak mengganti nomor handphoneku, walaupun sering mendapat sms yang tidak penting dari orang-orang yang pura-pura salah sambung. Aku yang cuek tidak pernah menaggapinya.

 Aku tahu perasaan ini sangat berbeda dengan perasaanku terhadap sahabat-sahabatku yang lainnya. Ada rasa yang selama ini aku pendam untuknya. Iya untuk dia, Adit yang selama ini aku tunggu. Dan hari ini aku mendapatkan SMS darinya dengan nomor yang sama karena selama ini aku masih menyimpan nomor HP dia. Aku tidak mengerti seberapa kuat perasaan ini dan mengapa aku begitu yakin bahwa dia akan datang padaku. Padahal selama lima tahun ini aku bisa saja menghubunginya namun perasaan gengsi dan marah yang terkadang muncul selalu berhasil mengurungkan niatku. 

Lima tahun bukan waktu yang sebentar maka tak heran jika aku merasa kaget ketika mendapat pesan darinya. Aku masih tertegun, dan hanya menatap layar HP yang sudah mulai terlihat usang. Yah aku masih menggunakan HP sewaktu kita bersama-sama, HP yang sama dan kita membelinya pun bersama-sama. Aku tidak tahu perasaan apa yang selama ini aku pendam. “Mungkin  karena seringnya kita bersama membuatku jatuh cinta padanya?” gumamku dalam hati.

 Tidak dapat ku pungkiri bahwa selama kita bersama aku selalu jatuh cinta padanya. Setiap hari berganti, setiap kali bertemu dan setiap kali ku mengingatnya aku jatuh cinta padanya. Namun atas nama persahabatan aku tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku yang jelas akan merusak persahabatan kita. Benar adanya yang sering orang katakan bahawa tidak ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki, antara wanita dan pria. Pasti akan tersirat perasaan yang setiap insan berhak memilikinya yaitu perasaan cinta dan mencintai.
****
Ketika itu dengan tangan yang gemeteran jari-jemariku mulai mengetik pesan yang akan aku kirim pada Adit. “Bismillahirahmanirohim, heemm” ucapku sambil menghela nafas. Dengan perasaan masih tidak percaya aku membalas SMS dari Adit.
 Zahra: “waalaikumsalam, Adit kamukah ini”
Adit: “Iya Ra, kenapa kamu kaget ya? Wah aku gak nyangka loh Ra, kamu masih menyimpan nomor aku.. heee”
Zahra: “Hemmm sempet kaget sih, ya mungkin kebetulan aja aku juga tidak mengganti nomor sekaligus HP, oh iya kabar aku alhamdulillah baik, kamu gimana Adit?”
Adit: “wah keren kamu Ra bisa ya jaman sekarang masih bisa bertahan dengan HP model lama? Aku kurang baik nih heee”
Zahra: “ enggak ah biasa aja semua orang juga bisa kok kalau mau, kok kurang baik kamu sakit Dit?”
Adit: “enggak Ra, hanya saja aku lagi kangen kamu Ra, besok kamu ada di rumah kan?” 
Begitulah rangkaian percakapan yang berhasil ku abadikan di Hpku.

Deg... jantung ini kembali berdetak tak menentu, yang tadinya sudah kembali normal kini mulai tak karuan lagi. Aku menghentikan obrolan lewat sms tersebut. Aku bingung mau membalas apa, yah aku tahu bahwa dia pasti merindukanku hanya sebatas rindu pada seorang sahabat yang sudah lama berpisah, tidak lebih. Namun mengapa aku merasa salah tingkah dan grogi pada saat membaca pesan terakhir yang dikirim Adit via Sms. Dengan perasaan gugup aku menengok pada jam tanganku dan sudah menunjukan pukul 18.00 yang ditandai dengan jarum jam tepat membentuk garis vertikal. Aku pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan shalat maghrib.
***
Lega rasanya setelah menunaikan kewajiban dan sedikit bercengkrama dengan-Nya. Seperti biasa setelah merapihkan mukena aku duduk di tempat tidurku dan kembali kuraih HP kesayanganku. Kubuka menu dan ku klik pesan di Hpku, dengan mantap aku membalas pesan dari Adit. “Insya Allah aku ada di rumah ba’da ashar, silahkan datang ke rumah” jawabku singkat dengan bahasa yang sedikit formal tanpa membalas kalimat dia yang sebelumnya. Jujur aku masih terlalu naif untuk mengatakan bahwa aku pun sangat merindukannya dan selalu menantinya kembali. Namun itulah aku selalu bertahan dengan memendam dan bersembunyi dari perasaan yang selama ini menghantui. 

Malam itu entah mengapa aku merasa gelisah dan tidak dapat memejamkan mata sipitku. Lantunan istigfar senantiasa terlontar dari bibir tipis nan merah itu. Aku berusaha keras untuk dapat tidur lebih awal karena besok ada agenda yang cukup menyita waktu. Namun aku masih belum bisa memejamkan mata untuk tertidur pulas, padahal sebentar lagi tengah malam dan rumah sudah mulai sepi. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidurku, kubuka laci meja belajar terdapat sebuah dompet lucu dengan warna pink yang menambah kesan indah dompet tersebut. Entah apa yang mau aku ambil dalam dompet tersebut mungkinkah uang, untuk apa? 

Heemm aku memang pantas disebut sebagai pengagum rahasia. Karena diam-diam aku pernah mengambil fotonya lalu ku cetak dan kutaro di dompet kesayanganku, yang sudah menemaniku selama lima tahun. Karena aku tahu aku pasti akan merindukannya. Terlihat sosok pemuda tampan dengan mata sipitnya menyatu dengan hidung mancung serta bibir tipis yang dengan sengaja dibuat sensual menjadi ciri khas dia ketika berfose. Rambut hitamnya serta kulitnya yang tak lagi putih namun mendekati coklat kian terlihat manis  dibalut dengan kemeja merah hati yang membuat aku tak henti memandanginya. 

Sreetttt... Aku menyentuh foto tersebut dengan tanganku seraya berkata dengan suara lirih “seperti apakah wajahmu sekarang? Masihkah sama atau sudah berubah seperti perasaanmu yang berubah dan meninggalkanku dalam kesepian, ah sudahlah”. Aku menepis perasaanku yang mulai merindukannya. Setelah selesai memandangi fotonya dan sedikit mengenang masa lalu akupun merebahkan badanku di tempat tidur kesayanganku. Dan tanpa sadar akupun tertidur dengan posisi tengah memeluk dompet lucuku. Yah dompet tersebut adalah hadiah ulang tahunku yang ke-17 tahun dari Adit. Aku masih menggunakannya walaupun terkadang ledekan dari teman-teman harus ku terima dengan senyuman. Mungkin karena bentuk dan warnanya yang unyu-unyu, entahlah akupun tidak tahu.
****
“Klik” bunyi stop kontak lampu kamarku, keadaan kamar langsung berubah dari yang gelap menjadi terang. Aku yang masih mengantuk hanya membuka mata sebentar dan lanjut menarik selimut. Tapi dengan lembutnya mamah duduk tepat di sampingku, bibir merah mamah menyentuh keningku tak lupa dengan penuh kasih sayang mamah membelai-belai rambutku. “Bangun sayang sudah shubuh, yuk shalat dulu nanti kesiangan loh, kan hari ini kamu ada acara degan teman-teman kan sayang?” begitulah cara mamah membangunkanku yang sedikit manja ini. “ehhmmm” begitulah jawabanku atas perhatian mamah yang luar biasa seraya membalikan posisi tidurku menjadi membelakangi mamah. Mamah hanya merapihkan selimutku kemudian mamah pun meninggalkanku bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Aku yang masih ingin menikmati indahnya bunga tidur tak dapat melanjutkannya. Suara kokokan ayam saling bersahutan, kicauan burung turut meramaikan menyambut indahnya fajar di pagi hari. Aku yang mulai malu dibuatnya akhirnya beranjak dari tempat tidur dan pergi mandi bersiap untuk shalat lalu pergi menemui teman-temanku setelah selesai sarapan. Apapun bisa terjadi ketika sudah bertemu dengan teman-teman baikku, termasuk bermain seharian di rumah teman yang selalu menjadi tempat istimewa buat kami. Maklum kita hanya dapat bercengkrama jika ada waktu libur yang tepat karena masing-masing memiliki kesibukan yang berbeda.
***
Hari semakin sore, aku yang tengah gelisah terlihat dari berkali-kali melihat jam tangan yang kupakai di lengan kiriku. Entah apa yang membuat aku gelisah, aku yang sudah siap dengan dandanan sederhana. Yah, aku hanya mengenakan kaos polos berwarna putih kesukaanku yang kupadukan dengan rok bunga-bunga berwarna krem serta kerudung yang kian mempercantik penampilanku. 

Aku yang percaya bahwa Adit akan menepati janjinya sudah duduk di ruang tamu sejak 30 menit yang lalu. Seakan seseorang yang penting yang akan aku temui, yah betul aku menunggu Adit yang akan datang ke rumah beberapa saat lagi. Adit yang selama lima tahun menghilang dari kehidupanku tapi masih menempati ruang di hatiku. Adit yang selalu kurindu dan kunanti kehadirannya, kini akan datang menemui aku. Jelas rasa grogi dan gelisah senantiasa menemaniku. Perasaan tak menentu, tangan tiba-tiba dingin dan tanpa sadar aku menggerak-gerakkan kakiku di atas lantai yang sengaja kusilangkan.
****
“Teeeeettttt” bunyi klakson motor berhasil membuyarkan perasaan tak menentu yang dari tadi tengah kurasakan. “Yah itu pasti suara motor Adit” gumamku pelan. Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang diketuk olehnya dilanjutkan dengan ucapan salam “Assalamualaikum” ucap Adit dengan penuh semangat. “Waalaikumsalam” aku menjawab salam Adit sambil bergegas membukakan pintu untuknya.
“Waalaikum sa.. salam” ucapku pelan sambil menggigit bibir tipisku, ketika aku membuka pintu dan tepat dihadapanku berdiri seorang pemuda gagah nan tampan sampai-sampai aku tidak mengenalinya. Lima tahun tak bertemu membuat dia menjelma menjadi pribadi yang lebih elegan jauh sebelum dia pergi. Namun satu yang tak berubah sikap baik dan ramah itu masih tetap melekat indah pada dirinya. Terlihat dari cara dia menyambutku dan masih mengakui aku sebagai sahabat yang sangat dirindukannya. 

Masih belum sadar dari rasa kaget aku sudah dikejutkan dengan nada bercanda Adit yang dari dulu tidak berubah. “Dor, kok bengong sih kayak melihat hantu aja. Masa sih ada hantu seganteng ini?” ucapnya sambil mengerak-gerakan tangannya dihadapan mukaku. Aku hanya terdiam dan sedikit merubah posisi berdiriku yang tadinya berada dibalik pintu menjadi tegak berhadapan dengannya. “hemm jadi gini cara memperlakukan tamunya, jadi aku gak disuruh masuk nih?” Adit kembali berkata dan berjalan menuju pintu rumahku. “emmm eh maaf, iya silahkan masuk Dit, maaf ya rumahnya berantakan. Ayo silahkan duduk”. Kalimat tersebut adalah basa-basi yang sangat klasik untuk seorang sahabat yang dulu sempat dekat seperti aku dan Adit. Namun entah mengapa aku seperti bertemu dengan orang yang baru aku kenal. Dan satu hal yang tak pernah berubah pada diriku hingga saat ini, yaitu aku selalu jatuh cinta padanya ketika kita bertemu. Aku jatuh cinta padanya sama seperti pertama kali bertemu, jatuh cinta pada pandangan pertama.
 Dengan bersikap layaknya baru kenal kami pun duduk dan mengobrol seperti biasa.
***
“Ra berangkat sekarang yuk” ajak Adit padaku yang tengah asik memainkan HP entah apa yang aku otak-atik, hanya saja itu sering aku lakukan ketika merasa grogi dan bingung mau ngapain. Aku terkaget dan hanya menjawab “ooh iya, maksudnya Dit, kita mau pergi kemana?” “hemm kemana ya? Udah ayoo ikut aja”. Adit kembali mengajak ku dengan penuh semangat. Akhirnya aku menuruti ajakan Adit, kita bersiap untuk pergi entah kemana, yang pasti aku merasa semakin grogi dan pikiranku mulai tak karuan. Tapi aku paling bisa mengatasinya, aku dengan sikap cuek dan seakan tidak ada perasaan apapun berhasil tampil dengan wajah ceriaku. Dengan sedikit buru-buru aku bergegas ke dapur memanggil mamah, seperti biasa kemanapun aku pergi dengan siapapun itu aku harus tetap izin sama mamah. Setelah meminta izin dan pamitan aku dan Adit bergegas pergi ke depan rumah.
****
Adit mulai menghidupkan sepeda motornya, aku hanya berdiri sambil sesekali memperhatikan Adit. “Ayo Ra naik” ajak Adit sambil menganggukan kepalanya memberikan isyarat bahwa dia benar-benar ingin mengajakku pergi. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri Adit dan duduk tepat dibelakang Adit. Yah kita pergi menggunakan sepeda motor Adit yang kelihatannya masih baru. Dengan perlahan akhirnya sepeda motor pun melaju, aku hanya terdiam dan fokus dengan posisi dudukku yang yang sangat tidak nyaman. Walaupun kita sahabatan sudah lebih dari lima tahun namun perpisahaan itu mampu membuat susana menjadi canggung. Terlebih sebenarnya aku grogi dengan perasaan yang selama ini aku pendam. Aku tidak berani meletakkan tanganku dipinggangnya Adit terlebih melingkarkannya walaupun sebenarnya aku takut jika tiba-tiba Adit tancap gas aku akan sedikit terdorong ke depan. “Ah sudahlah Ra kamu harus tetap dengan posisi seperti ini” gumamku dalam hati. Semakin lama sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Dengan kepala yang tertutup helm Adit hanya fokus mengendarai sepeda motornya tanpa berbicara sepatah katapun padaku. Kondisi seperti ini semakin membuatku merasa tidak karuan. Namun aku menikmati perjalanannya, dan aku tidak menyangka bahwa Adit benar-benar membawa aku ke tempat favorit kita sewaktu masih dekat dulu. Sebuah pantai yang menjadi saksi kedekatan persahabatan kami, namun ada yang beda sepertinya. Pantai yang masih terlihat indah kini kian bertambah keindahannya dengan adanya sebuah dermaga yang terbentang menahan birunya laut. Mataku langsung tertuju pada keindahan alam ciptaan-Nya itu walau masih berada di atas sepeda motor.
***
“sreetttttttt” bunyi ban sepeda motor bersentuhan dengan rerumputan yang melapisi tanah di pinggir dermaga. Adit menghentikan motornya, sambil membuka helm yang semenjak tadi melindungi wajah tampannya dia menengok ke arahku seraya berkata “Taraaa.. sudah sampai, ayo turun Ra” Adit kembali meletakkan helmnya di atas jok motor, sedangkan aku dengan pelan-pelan turun dari motor Adit. Dengan wajah sumringah seakan mendapatkan kejutan yang selama ini aku idam-idamkan. Yah jujur aku terkejut, aku tidak menyangka Adit masih tetap mengingat tempat kesukaan kita dan mengajakku untuk mengunjunginya setelah sekian lama kita tidak bertemu. Aku yang terkagum-kagum hanya bisa tersenyum dan sesekali menutupi mulutku dengan kedua telapak tangan seakan tidak ingin Adit tahu kalau aku tengah berbunga-bunga.
“Wah indah banget, dermaga dengan laut yang biru, subhanallah” kalimat itulah yang berhasil aku ucapkan sebagai bukti kekagumanku dan rasa senang yang tiada tara. Aku yang sedang menikmati keindahan pemandangan berhasil memanjakan pandanganku semakin lepas kontrol. Aku sibuk memotret tempat-tempat yang indah yang sangat aku rindukan, maklum selama ini aku jarang main karena kesibukan kuliah di luar kota dan alasan klasik lainnya. Aku tidak sadar bahwa Adit tengah memperhatikan tingkah konyolku yang bagaikan anak ayam lepas dari kandangnya. Tanpa aku sadari Adit sudah berada tepat di belakang ku.
“ehmm, kayaknya lagi seru nih, sampe lupa ada orang disini hee” Adit berusaha menggodaku dengan nada bercandanya. Aku yang terkadang bertingkah panik akhirnya terlihat juga sikap yang sebenarnya. “oh, sorry sorry.. biasa terbawa suasana” jawabku sambil menghentikan aktivitas memotret pemandangan senja yang sangat indah. “oh iya Ra, duduk yuk”. Ajak Adit saraya mengambil posisi duduk di atas rumput yang hijau tepat menghadap ke arah dermaga dan pantai. Tempat ini adalah tempat favorit kami untuk menunggu sunset tiba. Dia masih ingat dan tidak ada yang berubah, namun yang membuat perasaanku semakin aneh adalah sikap Adit yang lebih dewasa dan cara memperlakukan aku sangat berbeda dengan semasa kita bersahabat dulu. Jika dulu kalau kita mau melihat sunset di tempat ini yah langsung duduk saja tanpa ada basa-basi. Namun di senja ini Adit memperlakukanku lebih istimewa dari biasanya. Adit yang sudah duduk kembali mengajakku dengan suara yang lembutnya. “Ra, kok masih berdiri aja, sini duduk” Adit dengan pandangan penuh harap mengajakku dan tangannya menepuk-nepuk rumput yang melapisi tanah. Seakan pertanda bahwa dia menginginkan aku duduk disampingnya. Melihat cara Adit memperlakukan aku yang sedemikian beda dari jaman kita masih bersahabat dulu. Aku hanya mengangguk dan berjalan ke arah Adit dan duduk tepat disampingnya.
****
Bagaikan badan yang lesu bertemu dengan multivitamin begitulah yang dapat menggambarkan keadaanku saat itu. Luar biasa bahagia sambil menikmati senja dan menanti sunset tiba kami saling bercerita satu sama lain. Mulai dari kuliah sampai perjalanan asmara kami, tanpa rasa malu kami juga saling bercerita tentang keluarga, teman-teman dan sahabat. Tidak lupa juga kami bernostalgia selama perjalanan persahabatan kami sampai dengan saat ini. Adit yang sudah lulus dari kuliahnya memamerkan kesuksesannya dihadapanku. Sedangkan aku yang masih dalam proses mengejar apa yang biasa orang katakan sukses turut merasakan kebagiaan yang tengah Adit rasakan. Tidak terasa senja sudah mulai pergi dengan perlahan dan sebentar lagi akan digantikan dengan datangnya sang rembulan yang sedikit menerangi gelapnya malam. 

“Eh Dit uda mau mghrib nih, pulang yuk” ajakku sontak menggetkan Adit yang tengah melamun, entah apa yang dipikirkan Adit. Aku langsung beranjak dari tempat duduk kemudian berdiri sedangkan Adit masih setia dengan posisi duduknya. “Ayo lah Dit” aku mulai resah dan sedikit merengek. Tiba-tiba Adit meraih tanganku dan memandangku dengan sedikit senyuman. Jelas aku sangat kaget, jantung ini berdetak tak karuan kaki seakan mau bergetar namun aku tahan, jika tidak maka rasa malu ini akan membuatku semakin salah tingkah. Saat itu aku semakin tidak kontrol hanya bengong tanpa sepatah katapun. Tiba-tiba lidah ini menjadi kelu padahal barusan aku dengan lantangnya memintanya untuk cepat-cepat pulang. “Hey, kok bengong sih?” tanya Adit sambil menggerakkan tangannya yang memegang tanganku. “Ayo tarik aku tadi katanya mau cepat-cepat pulang” sambung Adit seraya menengadahkan kepalanya sambil menatapku dengan penuh harap. Tanpa pikir panjang aku langsung menarik Adit dengan sepenuh tenagaku. “Hup” teriak Adit yang berhasil terangkat dari posisi duduknya. Dengan spontan Adit sudah berada dihadapanku tangannya masih memegang tanganku. Jarak kita hanya dipisahkan sejauh 20 cm dan kita saling menatap satu sama lain seakan ada sesuatu yang berdesir di hatiku saat ku tatap wajah Adit. Kedua mata sipit Adit kian dekat dengan tatapannya yang membuatku semakin tak dapat mengendalikan detak jantung yang kiat tak teratur, dengan perlahan ku alihkan tatapanku dan hanya menunduk melihat ke arah sepatuku. Aku tidak tahu harus berkata apa dan harus bertindak seperti apa, mungkin perasaan itu yang mempengaruhi aku sehingga bertindak bodoh seperti ini. Perasaanku kembali tak menentu, hembusan angin, deburan ombak dan suasana senja yang dihiasi dengan jingganya menjadi saksi bahwa kembali lagi aku jatuh cinta padanya. Dermaga biru disenjaku pun turut menjadi saksi, aku jatuh cinta padanya lagi, lagi dan lagi. Namun beberapa saat kemudian aku kembali menepis perasaanku ini. Aku sadar bahwa dia tidak memiliki perasaan seperti yang tengah aku rasakan, apalagi menyimpan perasaan yang sudah lama dipendam. Itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada Adit yang di kampusnya menjadi idola. Aku terus berpikir sebaliknya dari apa yang sebenarnya aku harapkan darinya.

Angin pantai kian menusuk tubuhku yang hanya dibalut dengan kaos kesayangnanku tanpa mengenakan jaket. Terihat dari wajahku yang mulai memerah karena kedinginan, maklum dari kecil aku tidak bisa kedinginan. Yah kebanyakan orang menyebutnya dengan sebutan alergi dingin. Entahlah akupun tidak mengerti mengapa bisa seperti itu, tapi ya itulah aku. “Hey Ra” bisik Adit seraya mengangkat tanganku kemudian melepaskannya. Aku yang sempat kaget secara spontan melepaskan genggaman tangannya Adit dan hanya menjawab “o...ooh iya ayo dit” aku langsung bergegas menghampiri ke arah motor Adit sambil mengelus-eluskan tangan pada lengan dan bahuku tanpa menatap Adit yang masih berdiri dan terus memperhatikan aku. 

Tiba-tiba Adit menghampiriku, berdiri tepat dibelakangku kemudian membuka jaket yang dia kenakan dan memakaikannya padaku yang tengah kedinginan. Dengan pelan-pelan Adit membantu aku memakai jaket dan berkata dengan suara lembutnya yang selalu aku rindukan. “Pakai jaket yah Ra, kasian kamu kedinginan” aku yang tidak ingin ketahuan telah memiliki perasaan yang berbeda padanya tidak membalas perlakuan romantisnya dengan kata-kata yang dapat masuk kedalam suasana. Dengan nada biasa aku ketawa lucu dan berkata “ heee, maksih ya Dit iya nih aku kedinginan, oh iya terus kamu gimana?” layaknya teman yang mengkhawatirkan keadaannya juga. “Ah gampang aku mah, yang penting kamu dulu aja Ra gak kedinginan” sambung Adit sambil menghidupkan motornya dan siap untuk pulang. Akupun bergegas naik dan sudah dalam keadaan siap pergi. 

Ditengah perjalanan aku memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol namun kembali lagi aku mengurungkan niat itu dan hanya mampu mengucapkan terima kasih. “Makasih ya Dit” ucapku singkat. Adit hanya mengangguk dan kembali lagi fokus untuk mengendarai sepeda motornya. Aku masih seperti perjalanan berangkat dari rumah, masih belum berani meletakkan tanganku dipinggangnya Adit. Namun tiba-tiba adit meraih tanganku yang dingin kemudian melingkarkannya dipinggangnya, bukan hanya itu Adit juga dengan lembut memegang tanganku seperti seseorang yang sedang berusaha menghangatkan tangan yang dingin. Pertamanya aku menolak pertolongan yang menurutku sedikit berlebihan ini. Karena kita adalah hanya sepasang sahabat tidak lebih. Namun karena Adit yang mengulanginya lagi dan lagi, akhirnya aku menerimanaya atas nama persahabatan dan keselamatan. 

Kembali lagi, rasa nyaman semakin kurasakan ketika kusandarkan kepalaku dipunggungnya. Entah apa yang membuatku merasa senyaman ini, desiran yang berasal dari hatiku kini semakin kuat dan menghadirkan perasaan bahagia yang sebelumnya tidak pernah kurasakan. Perasaan apakah ini?
***
Setiba di rumah, senja sudah pergi dan menyisakan gelapnya malam yang ditemani sang rembulan. Tidak terasa kita sudah sampai di rumah, Adit memberhentikan sepeda motornya tepat di halaman rumahku. Terlihat mamah dengan wajah gelisahnya telah menunggu kami. Akupun menyalami mamah dan menjelaskan mengapa kami pulang terlambat, mamah selalu mengerti dan mempertilahkan Adit untuk masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi seperti biasa Adit langsung masuk ke dalam rumahku untuk menumpang shalat dan beristirahat sejenak.
****
Dalam heningnya malam terlihat sepasang sahabat yang saling diam satu sama lain, tepatnya di sebuah ruang tamu aku dan Adit hanya duduk dan sibuk memainkan Hpnya masing-masing. Berbeda halnya dengan suasana di ruang keluarga yang sedang asyik menonton tv. Adit mengawali pembicaran yang dari tadi hanya diam saja satu sama lain. “Oh ya Ra, untuk yang tadi aku minta maaf ya”. “oh iya tidak apa-apa kok Dit” jawabku malu.  “ini jaketnya maksih ya” sambungku seraya memberikan jaket Adit. Senyuman manis itu terlihat dari wajah tampannya seraya mengambil jaketnya Adit berkata “iya sama-sama Ra”. “diminum Dit tehnya, udah dibuatin mamah tuh” aku menyuruh Adit untuk meminum teh manis anget yang sudah dibuatkan mamah. Adit langsung mengambil cangkir yang berisi teh manis kemudian meminumnya. “hemm manis banget, semanis kamu Ra” goda Adit sambil meletakkan cangkir ke tempat semula. Entah apa yang membuatku menjadi tersipu ketika Adit berusaha menggodaku. Namun semuanya dapat ku atasi sehingga suasana menjadi hangat dan penuh rasa humor kembali.
***
Jam dinding yang terletak di ruang tamu menunjukkan pukul 19.10 suasana tiba-tiba menjadi serius ketika Adit menatapku dengan pandangan serius dan berkata “Ra, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini aku nanti-nantikan. Namun entah mengapa aku selalu ragu dan merasa ketakutan ketika akan mengatakannya. Aku takut kamu marah sama aku, tapi sepertinya sekarang sudah waktunya aku mengatakannya”. Dengan nada lembut Adit seakan sedang membuat pengakuan yang selama ini dia pendam. Aku hanya terdiam dan sedikit ketakutan namun aku sendiripun tidak tahu apa yang membuatku merasa takut. Jantungku seperti mau meloncat dari sistem peredaran darahku, aku takut dia akan mengatakan sesuatu yang selama ini aku harapkan. “ya Allah apa mungkin dia akan menyatakan cintanya padaku?” tanyaku dalam hati. Adit kembali mendekati aku dan melanjutkan kata-katanya. “Ra jujur, sebenarnya aku.. a..a..aku” Adit kembali menunda pembicaraannya dan membuang tatapannya ke arah lain. Aku sudah tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku saat itu. Aku memberanikan diri untuk menyentuh lengan Adit dan berusaha membalikan badannya agar melihat ke arahku. “Ada apa Dit, kamu kenapa?” tanyaku polos seakan-akan tidak mengetahui apa-apa. Adit yang mulai terlihat grogi mukanya memerah dan tatapannya semakin tajam. Terpaksa aku membalas tatapannya, pada saat itu kita saling menatap satu sama lain. Dengan perasaan tidak karuan aku mencoba sebiasa mungkin, namun Adit kembali mengucapkan sesuatu yang sudah tidak mampu ia bendung. “Ra, a..a..ku.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi jangan marah ya.. Ra, sebenarnya aku, a..a..ku..” “Hemm” jawabku pelan. “Ra sebelumnya aku mohon kamu jangan marah dan ilfil mendengar pengakuanku ini ya”. “Iya adit kenpa aku harus marah emangnya kamu salah apa?” aku mencoba menjawab kata-kata Adit yang semakin membuatku penasaran. “Jujur ya Ra aku sudah lama memendam perasaan ini. Aku sudah jatuh cinta jauh sebelum kamu menyadarinya, aku jatuh cinta sama kamu dari pertama kita bertemu menjadi sahabat dan sampai saat ini. Aku memang bodoh Ra aku sangat bodoh dan sudah jahat sama kamu” dengan suara yang lirih adit membuat pengakuan padaku atss perasaannya selama ini, namun tiba-tiba aku meletakkan jari telunjukku yang lentik itu dibibir tipisnya Adit, spontan Adit menghentikan pembicaraannya dan menatapku dengan penuh harap. Aku yang memiliki perasaan yang sama ini berusaha meyakinkannya “ssuuuttttt Kamu ga bodoh kok” hanya kalimat singkat itu yang mampu kuucapkan. Adit meraih tanganku dan mengenggamnya dengan erat seraya berkata dengan suara lirih “iya Ra, aku bodoh karena aku pergi meninggalkan kamu tanpa sepatah kata apaun dan tidak memberikan kamu kabar selama lima tahun. Aku mohon maafkan aku Ra, maafin aku yang sudah meninggalkan kamu dalam kesepian yang tidak sebentar ini. Maafkan aku yang selalu menahan rindu padamu. Dulu aku masih terlalu muda dan aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku dengan studiku. Maka dari itu aku tidak dapat menolak ketika ayah menyuruhku untuk kuliah di luar negeri. Maafin aku Ra maafin aku ya, aku sayang kamu Ra sayang bangeettt.” Tidak terasa ada buliran lembut yang menetes dipojok mataku, aku yang mudah tersentuh jelas merasakan apa yang selama ini Adit rasakan, aku tidak menyangka ternyata Adit memiliki perasaan yang sama dengan aku. Cinta ini tidak hanya bertepuk sebelah tangan tapi dengan kesabaran kami mampu membingkainya dengan indah. Saat itu suasana menjadi hening, aku tidak dapat menahan air mata yang kian deras mengalir dipipiku. Adit kembali melanjutkan kata-katanyan “Dan aku berbicara seperti ini bukan untuk mengajak berpacaran denganmu karena aku takut suatu saat nanti kamu akan memutuskan aku, Ra. Aku berbicara seperti ini tulus dari hati dan sudah mendapat izin serta restu dari mamah papah, aku ingin melamarmu untuk menjadi kekasih halalku. Menjadi bidadari dalam hidupku, menjadi pelurus tulang rusukku dan menyempurnakan kekuranganku. Karena Allah aku mencintaimu dan lahir bathin aku menerima kamu Ra” Dengan suara yang lantang dan penuh ketegasan adit berusaha meyakinkanku. Aku hanya bisa diam dan menangis dengan perasaan sudah tak menentu. Aku tidak menyangka Adit akan melamarku seperti ini dan aku tidak menyangka bahwa dia sudah lebih dulu mencintaiku. Aku belum sempat menjawab, Adit kembali bertanya padaku. “Ra, kamu akan menerima aku dengan sejuta kekuranganku kan, aku tahu kamu juga pasti melihat niat tulus ini dimataku kan?” Dengan suara yang diringi isak tangis kecilku aku berusaha menjawab. “Insya Allah Dit, aku mau menjadi kekasih halalmu, aku mau menjadi bidadari dalam hidupmu, aku juga mau menjadi pelurus tulang rusukmu dan aku akan membuat kamu sempurna dengan menerima kamu apa adanya. Tapi izinkan aku untuk memohon izin terlebih dahulu sama ibu dan ayah”. Aku yang terlihat sangat bahagia dengan ini semua tanpa ragu-ragu menerima permohonan dari Adit.
***
Hari berganti hari dan tepat satu minggu setelah Adit mengutarakan isi hatinya padaku. Akhirnya Adit datang kembali ke rumah bersama dengan keluarganya, berniat untuk meminang aku. Aku dan keluarga yang telah mempersiapkan semuanya terlihat bersemangat untuk menyambut kedatangan Adit. Dengan penuh khidmat dan disaksikan keluarga besar acara tunangan berlangsung dengan lancar dan meriah. Terlihat Adit yang semakin tampan dengan celana hitam dan kemeja putihnya yang sangat elegan. Dan aku yang dari tadi tersipu-sipu semakin membuat pipiku merona dengan balutan kerudung berwarna abu-abu yang dipadukan dengan gamis berwarna senada. Lengkap sudah perasaan bahagiaku ketika Adit memasangkan cincin tunangan kita dijari manis tangan kiriku. Begitupun dengan Adit, terlihat jelas diwajah tampannya rasa bahagia itu tengah menyelimutinya. Dua insan yang saling memendam rasa cinta satu sama lain dan dipisahkan oleh jarak dan waktu selama lima tahun, kini mereka dapat merasakan kebahagian atas pengorbanan mereka, yah aku dan Adit.
***
Tunangan ini merupakan langkah awal kami untuk menuju jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Namun karena Aku yang masih menyelesaikan studiku niat itu ditunda dulu sampai aku selesai studi. Dengan keputusan ini Adit sama sekali tidak merasa keberatan dan akan siap menunggu sampai tiba waktunya. Aku bahagia dan senantiasa bersyukur atas hadiah dan kejutan luar biasa di masa libur singkatku. Walau hanya dalam hitungan hari namun aku sangat menikmati dan memaknainya. Bagaimana tidak aku mendapatkan yang selama ini aku harapkan dengan jalan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Memang rencana Allah selalu menjadi yang terbaik dari apa yang kita rencanakan.

***
Sang mentari sudah tidak malu lagi untuk menyambut hari yang cerah ini, aku, Adit dan seluruh pengisi bumi ini akan segera mulai beraktivitas dengan kesibukannya masing-masing. Liburan sudah usai dan saatnya aku kembali dengan rutinitas yang akan menjadi teman baikku. Selamat tinggal liburan yang sangat mengesankan, jangan pernah bosan untuk terus memberikan aku tinta kehidupan maka akan senantiasa ku tulis semua kenangan.

TAMAT
Bekasi, 20 Agustus 2014_TSA_

Sabtu, 05 Juli 2014

Feeling awesome




Hari ini aku menyaksikannya indah sekali.. Bulatan jingga itu nampak dekat disini, ya disini..

Dear, aku sendiri bingung mau nulis apa? persiapankah, perpisahankah, keberangkatankah atau setelah tiba dan mengukir jejak baru..
aku tidak tahu..

yang pasti aku bersyukur, bersyukur atas nikmat Allah yang tiada tara.. Akan byk perbedaan antara Bulan Ramadhan sekarang dg bulan Ramadhan yg telah aku lewati..

Mungkin Ramadhan yang lalu aku hanya menhabiskan waktu di kosan dan di kampus.. yang jelas orang-orangnya telah aku kenal begitu pun dg sifat dan kepribadiannya..

Insya Allah Ramadhan ini akan berbeda.. mungkin saja aku akan menjumpai lebih byk pengalaman yang sampai saat ini blm pernah aku dptkan.. atau mungkin juga aku menemukan berbagai permasalahan disini.. heemm kemungkinan-kemungkinan itu aku harus siap untuk menghadapinya..

jujur aku masih suka kangen rumah, kedekatan aku dan ibu selalu menjadi alasan aku untuk segera pulang walau hanya libur satu hari.. aku yg masih suka tidur dipangkuan ibu, aku yg selalu menantikan berpuasa bersama keluarga.. aku yang masih belum tahu kehidupan di luar sana, aku yang berpengetahuan sederhana..

Dan hari ini, menit ini dan detik ini akan diuji kedewasaannya, sejauh mana pengetahuan dan ilmu yang selama ini aku dapatkan.. Sungguh percaya atau tidak tapi ini nyata..

Aku hanya ingin mengatakan aku datang kesini untuk banyak belajar dari masyarakat dan berusaha sebanyak mungkin memberikan kebermanfatan untuk mereka...

So, siapapun kamu di rumah, siapapun kamu di kampus dan apapun yang kamu punya.. sekarang waktunya untuk menerima dan melaksanakan amanah itu dengan sebaik-baiknya..

Niatkan karena ibadah, jalani dengan senang dan have FUN.. insya Allah KKP kita berkah..


Pagi itu di dalam Bis, Feeling awesome 01 Juli 2014_TSA_

Jumat, 04 Juli 2014

Rindu





 Rindu

Ketika rindu kian menggebu....

Hati tak pernah meragu...

Bahwa kekutan doa adalah penwar rindu....


Tapi ayah, bersalahkah aku...

Menangis ketika melihat hamparan lautan luas..

Melihat indahnya gelombang ciptaan Allah SWT..

Dan mendengar deburan ombak yang senada...


Berdosakah aku yang selalu merindukanmu...

Aku yang selalu mentimu dalam mimpiku.

Dan aku yang tidak dapat mengukur anganku...

Untuk berjumpa denganmu....


Sudahlah itu hanya luapan emosiku...



Yang merindukamu...

Putrimu...


Mengingatmu di waktu Dhuhaku, Bekasi 05 Juli 2014_TSA_



Hari ketiga di Desa Sukajadi tempat KKP

 
 
Hari ketiga di Desa Sukajadi tempat KKP

Dear, tidak terasa yah sudah hari ketiga aku di tempat KKP dan sudah hari kelima Ramadhan. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menjalankan aktivitas yang sudah menungguku.
***
Dear, rencananya hari ini aku dan teman-teman kelompok akan bertemu dengan para ketua Gapoktan dan ketua RT Desa Sukajadi. Seperti yang telah didiskusikan tadi malam akhirnya kami pun bersiap-siap. Namun sebelum itu kami mengadakan diskusi terlebih dahulu mengenai program ke depan dan sekedar mengisi jurnal harian. Sungguh suasana yang nyaman dan sangat kekeluargaan, layaknya sudah saling mengenal lama kami terbentuk menjadi sebuah keluarga yang saling melengkapi satu sama lainnya. Tidak lupa juga keakraban kami selalu dihiasi suasana humor yang menghibur. Diskusi pun selesai dan Pak Kades sepertinya sudah siap dan mengajak kami pergi ke Kantor Desa untuk ikut rapat. Hah rapat? Sempat kaget juga sih, soalnya aku tidak menyangka akan diajak untuk rapat mingguan di Kantor Desa. Padahal agenda sebelumnya kami hanya sekedar pertemuan biasa, tapi yasudahlah mau bagaimana lagi walaupun salah kostum kita tetap berangkat bersama pak Kades.
***
Setiba di kantor desa kami disambut dengan baik oleh sekdes dan dipersilahkan memasuki ruangan rapat. Seperti biasa mahasiswa suka banget duduk dibarisan belakang, tapi hal tersebut tidak bertahan lama karena pak Sekdes meminta kami untuk duduk di depan bersama pak Kades beserta jajarannya. Rapat mingguan merupakan agenda rutin yang dilaksanakan di Desa Sukajadi yang membahas program yang sedang berlangsung atau yang akan segera berlangsung. Dalam rapat mingguan desa ini dihadiri oleh Kades, Sekdes, Ketua BPD, PPL, ketua RT, ketua RW, kepala Dusun dan LINMAS beserta kami mahasiswa IPB yang sedang melaksanakan KKP. Sungguh suatu kebanggaan bagi kami dapat ikut serta dalam rapat mingguan desa ini.
***
Heemm, lama juga yah rapatnya aku sempet ngantuk juga Dear maklum sehabis sahur tidak pernah tidur lagi ibu rumah tangga banget nyuci terus si Tika teh he. Tapi alhamdulillah rapatnya akhirnya selesai juga. Menuruk aku yah, rapatnya cukup baik persertanya kooperatif pada banyak yang mengajukan pertanyaan dan pihak Kades, Sekdes dan ketua BPD menanggapinya dengan bijak. Sehingga informasi yang disampaikan kepada para petinggi kampung dapat diterima dengan baik.
***
Dear, rapatnya sudah selesai tapi kami masih memiliki agenda lain yaitu berdiskusi dan sharing dengan ibu Yenie Novianti petugas penyuluh lapang (PPL) yang bertugas sebagai penyuluh untuk dua Desa yaitu Desa Sukajadi dan Desa Sukakarya. Beliau merupakan alumni D3 IPB jurusan Tekknologi benih dan lulusan UNS jurusan Agronomi Hortikultura dan sekarang sedang melanjutkan pendidikan S2. Beliau merupakan orang yang aktif dan penuh semangat, terlihat selama proses diskusi dan sharing ibu Yenie sangat mendominasi pembicaraan kami. Heem sepertinya kita mirip tipe orang deskriptif, terlihat dari cara ibunya bercerita.
***
Kami khususnya aku belajar banyak hal dari ibu Yenie bagaimana sulitnya menjadi penyuluh dan membuat petani mau menerapkan apa yang sudah ibu Yenie dan pihak gapoktan contohkan di laboratorium lapang. Iya betul kita tidak bisa memaksakan kehendak kita untuk secara otomatis merubah sikap petani.
Petani yang berada dibawah bimbingan ibu Yenie sudah mulai mau menerapkan sistem tanam jajar legowo walaupun belum sesuai dengan jajar legowo yang baik. Disini aku mengenal sistem tanam SRI, Jajar legowo, Tabela (Tanam benih langsung). Namun yang menjadi permasalahan di desa ini adalah belum terlaksananya sistem tanam serempak. Penyebabnya sangat beragam mulai dari masalah banjir, sistem tenaga kerja yang bergilir misalnya tenaga kerja tandur dan pengolahan tanah itu terbatas jadi tidak mungkin dapat tanam serempak. Padahal jika diterapkannya sistem tanam serempak dapat memutus siklus hama sehingga mengurangi serangan OPT terhadap tanaman padi.
***
Dear, betul kata ibu Yenie kita hanya bisa berusaha memberikan pengarahan, mencontohkan dan berusaha mengajak adapun mereka mau mengadopsi teknologi yang kita kenalkan itu hanya bonus atas usaha kita. Wah jadi semakin bersemangat nih untuk bisa bermanfaat bagi para petani. Oh iya ibu Yenie juga sering mengadakan pelatihan bersama kelompok tani dalam pembuatan kompos, pemeliharaan Tricogramma di laboratorium, selalu mengingatkan agar mengembalikan jerami ke sawah dan usaha-usaha yang lainnya. Tapi ya itu tadi hanya sedikit petani yang sadar akan pentingnya bertani secara organik dengan berbagai alasan klasik.
***
Oh iya Dear, bu Yenie dan pak Ridwan yang menemani kami berdiskusi pun merespon dengan baik ketika kami memaparkan program yang akan kami lakukan di Desa. Belai bersedia menyediakan lahan untuk percontohan pekarangan lengkap dengan perlengkapannya. Beliau juga dengan senag hati bekerjasama untuk mengundang para kelompok tani ke kantor BP3K pada saat akan diadakannya penyuluhan pertanian berkelanjutan dari kami. Kenapa kami mengundang para kelompok tani karena sasaran yang tepat adalah mereka. Dengan begitu akan mudah informasi disampaikan kepada petani. Karena kikta harus bergerak dari atas dulu kata ibu Yenie. Selain itu juga mereka tidak merasa keberatan ketika sedang ada program di desa kami ikut serta dalam kegiatan tersebut. Misalnya saja petani kampung Caringin ada yang sedang tandur kita ikut menanam atau ada yang sedang panen kita iku panen. Sedikit sedikit kita masukan pemahaman dan ilmu yang sudah kita miliki, bisa dikatakan berbagi dengan tindakan yang nyata. Tapi aku juga sadar sih kalau nantinya aku yang akan banyak belajar dari mereka.
***
Dear, sebetulnya masih banyak hasil sharing bersama ibu Yenie dan pak Ridwan tapi kalau aku ceritakan semuanya disini aku juga bingung sendiri harus mulai darimana. Intinya petani itu tidak mudah menerima teknologi baru yang kita perkenalkan dan merubah sikap itu hal terselut tapi masih mungkin jika kesadaran itu sudah ada pada diri mereka.
***
Cuaca yang sangat panas membuat aku cepat lelah, setelah selesai shalat dzuhur kami pun memutuskan untuk pulang. Waktu menunjukan pukul 13.30 tahu kan Dear posisi matahari tepat di atas kepala dan kita pulang naik motor. Setiba di rumah aku belum sempat menormalkan suhu tubuh tapi sudah tidk tahan dengan rasa kantuk. Akhirnya setelah cuci kaki memutuskan untuk tidur dan tahu tidak Dear bangun-bangun aku demam, suhu tubuh aku naik dan seperti orang sakit. Hal ini berlanjut sampai waktu sahur dan sampai pagi lagi. Terkadang aku juga msih sukabingung dengan diri aku, tidak bisa minum es padahal meliaht teman-teman berbuka dengan meminumnya sepertinya terasa nikmat tapi aku tidak bisa. Mungkin aku bisa menghindari minum es tapi aku tidak bisa menghindari teriknya matahari yang panasnya seperti membakar dan akhirnya kau demam juga. Jujur sedih sih tapi aku tidak berani bilang ibu dan teman-teman, aku bersikap seperti biasa ikut tarawih namun yang beda aku tidak ikut berkumpul bersama mereka diruang TV karena aku memutuskan untuk istirahat agar demamnya cepat turun.
***
Ya begitulah Dear, dalam tidurku sebetulnya aku khawatir, aku takut demam ini berlanjut tapi alhamdulillah aku bisa mengatasinya. Itulah pentingnya menjaga kesehatan tapi semaksimal apapun kita menjaga kembali lagi hanya kita yang mengerti akan diri sendiri maka jangan terlalu memaksakan. Yupz pokoknya aku harus sehat dan semangat untuk menyambut hari keempat di tempat KKP Be Happy Cha:)


Fajar pun belum nampak di Bekasi, 04 Juli 2014_TSA_

Kamis, 03 Juli 2014

Hari kedua di Desa Sukajadi tempat KKP




Hari kedua di Desa Sukajadi tempat KKP

Hari ini aku mengawalinya dengan shalat shubuh berjamaah di mudola sekitar rumah pak Kades. Wah ini kesempatan bagi kami untuk ngobrol-ngobrol dengan Tokoh Agama di desa tersebut. Kebetulan kami bertemu dengan bapak Abdul Rojak, beliau merupakan pemuka agama di desa Suka jadi, selain itu beliau juga memiliki kegiatan seperti mengajar ngaji anka-anak dan menjadi pengisi dalam pengajian ibu-ibu. Namun sayang sekali di bulan Ramadhan ini kegiatan tersebut diliburkan. Heemm pagi itu kembali kami mendapatkan pengalaman dan ilmu baru sebagai bekal untuk bergaul dengan masyarakat di desa tersebut. Seakin tertarik dan semakin ingin mengenal masyarakat lebih dekat.
***
Pegi ini seperti  biasa matahari cerah melengkapi pagiku yang sangat ku nanti. Layaknya ibu rumah tangga aku melakukan pekerjaan ibu rumah tangga tanpa melupakan yang telah aku targetkan. Dapat melakukan segala sesuatu dengan seimbang membuat aku semakin menemukan jati diri. Aku semakin bisa bagaimana mengatur waktu, memilah mana yang lebih penting, penting, biasa dan sangat biasa. Alhamdulillah KKP ini merupakan sekolah karakter buat aku. Di bulan Ramadhan ini aku belajar bagaimana saling menghargai antar umat beragama dan menciptakan keakraban antar teman sekelompok. Jadi gak heran kalau teman-teman kelompok aku pada kompak dan ketje beud dah. J
***
Pagi itu aku sudah tidak sabar untuk berkeliling kampung dan berjumpa dengan para petani. Tapi teman-teman masih pada asyik di tempat tidurnya heemm.. yasudah aku lebih memilih untuk membaca buku di teras, tiba-tiba kaka kelas menghampiri dan akhirnya kita berdiskusi. Yah tepatnya hari ini kita mau ngapain. Karena kita baru banget di kampung ini so kegiatan pertama yang wajib kita lakukan adalah berkeliling melihat dan perkenalan dengan warga sekitar serta melihat potensi pertanian di daerah tersebut. Okeh deh bungkus dan setelah diberitahukan kepada teman-teman akhirnya pada setuju.
***
Dengan anggota lengkap kita berjalan menelususri kampung Gili-gili yang menjadi tempat tinggal kami. Kenapa disebut gili-gili karena rumah-rumah warga di kampung tersebut hanya terdapat dipinggir jalan saja sedangkan yang lainnya hamparan sawah. Disepanjang perjalan tidak terlewatkan memotret sesuatu yang dianggap menarik buatku dan selalu membudayakan senyum, salam dan sapa. Hemm tidak disangka para warga di kampung tersebut ramah-ramah dan baik-baik. Akan tetapi ada beberapa warga yang tidak menegrti bahasa indonesia, bahasa sunda yang digunakan kasar kasar dan sebagian besar menggunakan bahasa indonesia.
***
Aku merasa waktu itu masih pagi, namun matahari sudah mulai terik dan terasa panas dikulit. Yah tentunya ini sangat berbeda dengan kondisi di Bogor atau pun di rumahku. Tapi itu semua tidak menjadi hambatan untuk terus melanjutkan perjalanan pertama kita di desa tersebut. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan petani yang sudah menerapkan pertanian terpadu yaitu pertanian, perikanan dan peternakan dalam satu tempat. Kami juga bertemu dengan petani yang sedang menyemprot padinya atau sedang aplikasi pestisida. Bertemu juga dengan petani yang sedang mengolah lahan sawahnya dan banyak kegiatan yang lainnya. Oh iya kebanyakan petani disini sistem penggarap soalnya pemilik lahannya itu kebanyakan orang Jakarta. Yah lumayan lah hari ini mendapatkan banyak informasi dan pengalaman baru. Karena kami tidak hanya bertemu dengan petani yang kita jumpai akan tetapi kami juga mengobrol dengan mereka mengenal lebih dekat dan mencoba memahami apa yang sedang mereka rasakan saat ini.
***
Karena hari sudah semakin terik kami pun memutuskan untuk mencukupkan keliling kampung hari ini. Setibanya di rumah pak Kades ternyata kami sudah ditunggu oleh ketua Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) bapak Ridwan. Akhirnya kami pun melanjutkan diskusi bersama beliau, sungguh luar biasa banyak sekali informasi mengenai pertanian di Desa Sukajadi ini. Selain itu juga kami semakin mengetahui dan memahami yang menjadi permasalahan di Desa tersebut. Sehingga semakin jelas apa yang kan kami lakukan selama dua bulan di Desa ini untuk sedikit membantu petani dan banyak belajar dari mereka.
***
Dear, begitulah kegiatan aku di hari ke dua KKP ini, aku menikmatinya dan mensyukurinya. Seperti biasa kegiatan lainnya kita buka puasa bersama, tarawih berjamaah di musola, tadarusan di musola dan berbincang hanagat bersma keluarga pak Kades diruang TV. Mungkin sudah dulu ya ceritanya untuk hari ini.. semoga besok ceritanya lebih indah dan penuh makna aamiiiin.. see you :)




Bersama hembusan angin malam di Bekasi, 02 Juli 204_TSA_

Rabu, 02 Juli 2014

Hari pertamaku di Desa Sukajadi untuk KKP



 Hari pertamaku di Desa Sukajadi untuk KKP

Dear, entah mengapa dan apa yang membuatku merasa tenang menjelang KKP (Kuliah Kerja Profesi). Orang lain dengan sekian kesibukannya mempersiapakan dengan berbagai hal, sedangkan aku pada saat itu masih berapa di pangkuan ibu. Aku yang selalu merindukan rumah tengah menikmati kebersaan keluarga pada saat itu. Alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa hari pertama di rumah bersama keluarga setelah selama tiga tahun terakhir ini tidak pernah aku rasakan lagi.
Hari ini pun tiba, tepatnya tanggal 1 Juli 2014 dengan persiapan seadanya karena itu adanya. Aku berangkat ke Desa Sukajadi Kec Sukakarya Kab Bekasi untuk melaksanakan ibadah KKP. Kita berangkat bersama-sama menggunakan bis, berangkat dari Bogor pukul 05.16 dengan mengucapkan Bismilllah Bis pun melaju. Perjalanan yang cukup panjang dan aku pun tidak ingin melewatkan waktu begitu saja. Mengisinya dengan yang bermanfaat itu jauh lebih baik.
***
Setiap perjalanan pasti ada persinggahan, yah mungkin pada saat itu bisa dikatakan persinggahan untuk kami. Berhenti sejenak untuk beristirahat dan kemudian melanjutkan perjalanan. 

Setiba di kantor Bupati Kabupaten Bekasi, kami disambut dengan baik dan penyambutan itu berjalan dengan lancar yang diakhiri dengan penyerahan pelakat dari pihak IPB kepada Pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi begitupun sebaliknya.
****
Tidak menunggu lama setelah penyambutan itu kami melanjutkan perjalanan menuju kantor kecamatan. Luar biasa disana kita sudah ditunggu oleh beberapa petinggi baik dari pihak kecamatan dan pihak desa. Dan aku bersyukur kelompok aku sudah ditunggu oleh kepala desa dan siap untuk mengantarnya ke rumah beliau. Iya betul saya dan teman-teman kelompok Desa Sukajadi, Kec Sukakarya Kabupaten Bekasi dipersilahkan untuk tinggal di rumah pak Kades untuk dua bilan kedepan selama KKP berlangsung. Sungguh nikmat yang senantiasa aku syukuri, karena beliau beserta keluarga memperlakukan aku dan teman-teman dengan baik.
***
Setiba di rumah pak Kades dengan akrabnya kami langsung berbaur dan mengobrol seakan banyak pertanyaan yang sangat mengebu-gebu untuk kita tanyakan. Hari pertama yang menyenagkan, bagaimana tidak layaknya saudara atau mungkin anak-anaknya beliau kita diajak untuk berbelanja bersama. Oh iya sebelumnya perkenalkan pak Kades bernama Eman supriatna dan Bu Kades memiliki tiga orang anak, anak pertama Kuliah di Unsika semester 3 jurusan pemerintahan, anak kedua kelas 3 MTs dan anak ketiga kelas 3 SD. Yah itulah keluarga pak Kades yang selama dua bulan kedepan akan menjadi keluarga aku dan teman-teman.
***
Oh iya Dear, berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol santai kami dengan pak Kades mengenai permasalahan yang terjadi di Desa Sukajadi terutama permaslahan pertanian. Ini nih yang menjadi permasalahannya. Pertama sungai Ciherang yang menjadi sumber perairan pertanian masyarakat sudah tercemar limbah pabrik. Sehingga dapat mengganggu sistem pertanian masyarakat. Selain itu juga banjir yang tingginya mencapai lutut orang dewasa mengakibatkan padi yang baru ditanam harus luluh lantah tersapu air banjir. Sehingga mengakibatkan pola tanam yang tidak serempak di lahan pertanian yang sama. Serangan OPT pun tidak dapat dihindari. Untuk hama yang sering mereka keluhkan adalah serangan wereng batang coklat dan penggerek batang. Hal ini dapat dilihat dari sistem budidaya mereka yang masih mengandalkan pestisida sebagai pengendaian terampuh dan tidak dikembalikannya jerami ke tanah juga berperan pada belum optimalnya produktifitas padi di Desa Sukajadi ini. Alasan mereka menggunakan pestisida dengan intensif karena tidak ada penyuluhan tentang pestida dan menjadi korban ajang promo produsen pestisida. Hal ini karena petugas penyuluh hanya terdapat satu untuk empat desa itu pun perempuan dan memiliki kesibukan lain yaitu mengajar. Beliau bernama ibu Yeni. Untuk alasan jerami tidak dikembalikan yah simpel saja karena memerlukan waktu lama untuk mengembalikan jerami ke lahan sampai menjadi busuk dan dapat diolah tanahnya. Padahal dengan dikembaikannya jerami ke sawah dapat mengurani kebutuhan pupuk dan serangan OPT.
***
Tapi ya begitulah petani masih belum mendapatkan pencerahan dan keadaran akan pentingnya pertanian yang kembali ke alam dan memanfaatkan sesuatu yang bernilai untuk pertanian. Disinilah peran kita sebagai mahasiswa, belajar dari mereka, memahami dan turut merasakan apa yang mereka rasakan. Masuk kedalam kehidupan mereka dan memberikan penyeuluhan yang dapat mencerahkan masyarkat mengenai penegetahuan umum yang menunjang untuk pertanian lebih baik lagi. Oh iya masalah pertanian yang lain juga masih perlu diperhatikan. Yaitu masih kurangnya perhatian dan kesadaran masyrakat akan pentingnya mengoptimalkan lahan pekarangan rumah. Yah jadi masih banyak pekarangan rumah masyrakat yang hanya dimanfaatkan untuk tempat bermain anak-anak, sayang banget kan? Padahalkan kalau lebih dioptimalkan lagi dapat menjadi pekarangan yang indah dan mampu mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari :) ..
***
Yah begitulah hari pertama aku di tempat KKP, alhamdulillah baik rezekinya. Mendapatkan keluarga baru yang luar biasa baiknya, teman-teman yang ketje beud, serta sambutan hangat dari setiap stakeholders beserta masyarakat yang kita jumpai. Hari pertama ini ditutup dengan buka puasa bersama di rumah pak Kades, shalat tarawih dan obrolan santai penuh makna... selesai nantikan episode berikutnya bakalan ada apa yah? Yang jelas insya Allah aku menikmati KKP di bulan Ramadhan ini, aku menjalankan semuanya tanpa megurangi kebutuhan aku akan ibadahku di bulan suci ini. Semoga Allah seantiasa memberikan perlindungan-NYA dan semuanya berjalan dengan lancar aamiiiin. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan (ar-Rahman).

Di Sepinya malam, Bekasi 01 Juli 2014_TSA_